Home arrow Rumahtangga arrow Jenis Kelamin
Wednesday, 23 April 2014
 
 
Karakteristik Jenis Kelamin Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Index Artikel
Data yang Diperlukan
Contoh
Interpretasi


Interpretasi

Tabel di atas menunjukkan bahwa proporsi KRT yang dikepalai baik oleh laki-laki maupun perempuan. Gambaran KRT berdasarkan jenis kelamin diatas memperlihatkan adanya penambahan proporsi KRT perempuan dari 12,7% menjadi 13,3% selama kurun waktu 3 tahun. Penambahan persentase KRT perempuan tersebut dapat menggambarkan tingkat perceraian (baik cerai hidup maupun cerai mati) yang terjadi dan juga dapat menggambarkan salah satu gaya hidup modern. Menurut beberapa teori tentang keluarga dan rumah tangga, modernisasi dan industrialisasi telah menyebabkan angka perceraian meningkat. Perempuan yang mempunyai fungsi tradisional mengasuh anak dan menyelenggarakan kehidupan rumah tangga, telah ikut bekerja di luar rumah. Di sisi yang lain  budaya masyarakat masih menuntut istri untuk berperan ganda sebagai pencari nafkah dan penyelenggara rumah tangga. Kemandirian perempuan dalam pencarian nafkah dan tuntutan yang tinggi untuk tetap berperan dalam rumah tangga menyebabkan ketidakpuasan dalam kehidupan perempuan. Ketidakpuasan tersebut dapat menyebabkan perempuan berani mengambil resiko untuk hidup sendiri.

Komposisi KRT berdasarkan jenis kelamin dapat memberikan gambaran yang lebih rinci dari kondisi demografi, sosial dan ekonomi dari rumah tangga yang bersangkutan apabila dikaitkan dengan variabel status kawin, kelompok umur, status kerja dan lain sebagainya.  Hal ini lebih menarik lagi untuk melihat kondisi sosial dan ekonomi rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan. Data Susenas 2000 menunjukkan bahwa kepala rumah tangga perempuan lebih banyak yang berstatus janda, berada pada umur 50 tahun keatas, kemungkinan berpendidikan rendah yaitu SD ke bawah dan status ekonomi rendah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah tangga yang kepala rumah tangganya perempuan mempunyai status sosial ekonomi yang rendah. Data semacam ini sangat diperlukan dalam rangka perencanaan kebijakan  pengentasan rumah tangga miskin terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar mereka.